Indikator
  • USD → IDR Jual: 13,338 • USD → IDR Beli: 13,352
  • EUR → IDR Jual: 14,126 • EUR → IDR Beli: 14,145
  • HKD → IDR Jual: 1,718 • HKD → IDR Beli: 1,720
  • JPY → IDR Jual: 117 • JPY → IDR Beli: 117
  • AUD → IDR Jual: 10,210 • AUD → IDR Beli: 10,226
  • SGD → IDR Jual: 9,371 • SGD → IDR Beli: 9,387
  • Emas Jual → 548,000 • Emas Beli → 523,000
  • Perak Jual → 10,900
  • Update Tanggal 07-03-2017
Opini

Perlidungan Petani diantara Kartel dan Mafia Pangan

Home / Opini / Perlidungan Petani diantara Kartel dan Mafia Pangan
Perlidungan Petani diantara Kartel dan Mafia Pangan Hamyana, Dosen Sosiologi Pedesaan Pada STPP Malang. (Grafis: TIMES Indonesia)

TIMESINDONESIA, MALANG – Istilah perlindungan petani dalam artikel ini memiliki terminologi yang lebih dari sekedar menempatkan petani sebagai sebuah entitas yang patut dilindungi. Tidak pula bermaksud untuk memposisikan petani sebagai kaum yang lemah sebagaimana diistilahkan oleh Sutomo dalam bukunya yang berjudul “Kekalahan Kaum Petani”.

Karena patut kita renungkan bahwa bertahan ditengah hempasan dan cengkraman kapitalis bukanlah sebuah perkara mudah. Eksistensi petani dalam segala keterbatasannya menjadi anti-tesis bahwa petani bukanlah kaum lemah, namun demikian bukan pula harus abai terhadap upaya-upaya eksploitasi yang dilakukan oleh pihak-pihak yang selama ini menggerogoti petani ditengah keterpurukannya. 

Oleh karena itu pemerintah (Negara) harus hadir selaku pihak yang paling berkepentingan dalam melindungi petani dan keluarganya dari ronrongan para kapitalis, kartel dan mafia.

Upaya-upaya perlindungan yang diberikan oleh pemerintah terhadap petani memang sudah kita temui semenjak Republik ini berdiri. Jika kita tengok pada masa Orde Baru, intervensi pemerintah terhadap sektor pertanian sangat kental, misalnya melalui program Bimmas dan Bimtek dan program Revolusi Hijau. Intervensi pemerintah pada sektor pertanian di masa Orde Baru dilakukan secara sistematis mulai dari proses produksi, distribusi maupun penyediaan infrastruktur lainnya. 

Intervensi tersebut meliputi subsidi input produksi, sistem kredit yang lebih mudah, bimbingan cuma-cuma, dan patokan harga. Namun pada realitasnya bentuk intervensi tersebut tidak serta merta mengantarkan petani semakin sejahtera. Karena pada kenyataanya yang memperoleh laba terbesar dari intervensi tersebut justru bukan petani, tetapi pelaku ekonomi lainnya yang bergerak pada jalur pengolahan dan distribusi. 

Berita Terkait

Komentar

301 Moved Permanently

Moved Permanently

The document has moved here.

Terpopuler

Top
Wawanita.com satriamedia.com