Indikator
  • USD → IDR Jual: 13,338 • USD → IDR Beli: 13,352
  • EUR → IDR Jual: 14,126 • EUR → IDR Beli: 14,145
  • HKD → IDR Jual: 1,718 • HKD → IDR Beli: 1,720
  • JPY → IDR Jual: 117 • JPY → IDR Beli: 117
  • AUD → IDR Jual: 10,210 • AUD → IDR Beli: 10,226
  • SGD → IDR Jual: 9,371 • SGD → IDR Beli: 9,387
  • Emas Jual → 548,000 • Emas Beli → 523,000
  • Perak Jual → 10,900
  • Update Tanggal 07-03-2017

Abah Anton dan Branding Religiusitas dalam Pilkada

Home / Opini / Abah Anton dan Branding Religiusitas dalam Pilkada
Abah Anton dan Branding Religiusitas dalam Pilkada Rachmat Kriyantono, PhD

TIMESINDONESIA, MALANG – Saat berkendaraan di beberapa sudut Kota Malang, pandangan kita dapat menangkap baliho besar berisi foto Walikota Malang, Moch. Anton, dengan kopyah putih, baju muslim warna putih, dan berkalung sarung di pundak, mengajak masyarakat menyukseskan gerakan sholat berjama’ah di awal waktu.

Gerakan ini pun dilegalitaskan melalui surat edaran walikota. Menarik disimak ketika pemasangan baliho gerakan ini dilakukan di saat-saat mendekati pesta demokrasi pemilihan kepala daerah (pilkada) Kota Malang. Baliho-baliho di sudut kota ini adalah pesan simbolik, dan setiap simbol merepresentasikan makna tertentu dari motif si pembuatnya.

Karenanya, sesuatu yang wajar ketika muncul pertanyaan tentang motif gerakan ini. Tulisan ini berisi pandangan saya bahwa gerakan ini tidak lepas dari strategi komunikasi politik walikota yang biasa dipanggil Abah Anton ini menghadapi pilkada tahun depan.

Tampak bahwa Abah Anton ingin mengajak masyarakat Kota Malang untuk mengadopsi nilai-nilai perilaku bermasyarakat yang terkandung dalam sholat berjamaah. Abah Anton pasti menyadari bahwa mayoritas masyarakat Kota Malang beragama Islam (Muslim).

Data sensus terakhir (2010), penduduk Muslim di Kota Malang berjumlah 729,416 jiwa atau hampir 90% dari total populasi. Agar program pemerintahan dapat efektif meningkatkan kesejahteraan maka pesan-pesan program pembangunan harus diarahkan untuk perubahan perilaku masyarakat menuju kondisi lebih baik.

Sebagai komunikator, Abah Anton berusaha menyesuaikan pesan-pesan programnya sesuai dengan karakteristik target sasarannya yang mayoritas Muslim ini. 

Dalam komunikasi politik, pemilihan key-message sangat diperlukan dalam upaya membranding seorang figur komunikator politik. Branding ini diperlukan sebagai positioning atau unique selling point bagi komunikator politik untuk membuat diferensiasi dengan pesaingnya.

Berita Terkait

Komentar

301 Moved Permanently

Moved Permanently

The document has moved here.

Terpopuler

Top
Wawanita.com satriamedia.com